Sebagai seorang istri, juga seorang ibu dan ditambah status wanita karier yang aku emban di satu punggung. Jujur, aku merasa letih. Aku seolah kekurangan waktu yang disediakan selama 24 jam dalam sehari. Berharap ada tambahan saja 2-3 jam, sejenak untukku meregang, meluruskan syaraf-syaraf tubuhku yang menegang oleh kesibukan.
Pukul lima mata ini sudah terbuka, aliran air wudhu yang membasahi setiap bagian yang wajib di aliri menyegarkanku seketika. Hangatnya darah yang mengalir ke kepalaku ketika bersujud subuh seolah antihistamin yang membiusku agar dapat selalu on sepanjang hari. Menyiapkan sarapan anak dan suami, bekal sekolah, seragam, dan bersabar dengan kemacetan mengantar anak ke sekolah lalu berputar haluan dan bertemu lagi kemacetan selama menuju kantor. Sudah menjadi ritual lazim di pagi hari. Untungnya ritual ini hanya dijalankan 5 hari dalam seminggu.
Kesibukan di kantor, kolega caper dan selalu ingin tahu urusan yang lain, serta permasalahan belantika perkantoran, hal biasa bagai santapan sehari-hari. Aku pun sudah kenyang bahkan muak untuk menikmatinya.
Waktu sore tiba, lagi-lagi berjibaku dengan kemacetan lalu lintas. Namun menjemput belahan hati adalah kebahagiaan tersendiri untukku. 8 jam terpisah, selalu saja membuatku teramat rindu untuk melihatnya. Wajahnya yang selalu tersenyum saat melihatku, dengan rambutnya yang lepek berkeringat namun tetap lincah tanpa terlihat raut letih di wajahnya. Oh sayangku, betapa mama ingin selalu ada menemanimu.
***
Sesampainya di rumah, yang selalu kujaga kebersihan serta keapikannya. Statusku beralih menjadi seorang ibu rumah tangga. Hal yang pertama kulakukan setelah mengganti pakaian kantor dengan daster rumah yang nyaman adalah menyiapkan hidangan yang lezat dan bergizi untuk keluarga. Kegiatan memasak kusambi dengan berbagai hal, menyapu, memasukkan pakaian ke mesin cuci, mengelap kaca dan perabotan, membereskan kamar tidur, terkadang aku juga menyambinya dengan face book an
Proses memasak selesai, dengan keadaan fisik yang sudah mendekati titik ‘kelelahan’ harus menemani anak makan dan mengerjakan homework, berharap ia akan menajdi anak yang berprestasi di sekolah. Selesai itu memandikannya agar kembali wangi. Waktu ibadah pun insyaAllah tidak akan pernah lepas dari jadwal sehari-hari.
Saat kulirik jam dinding yang tergantung manis di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Selebihnya waktu, masih banyak pekerjaan rumah yang lain masih menunggu. Setrikaan yang tidak pernah habis, debu di halaman rumah yang tidak pernah menipis, menunggu suami pulang yang terkadang sampai jam 9 malam.
Belum lagi jadwal belanja 2 mingguan yang mau tidak mau harus dilaksanakan olehku seorang diri. Menggeret galon air dan tabung gas … sungguh jelas mengapa surga itu berada di telapak kaki ibu. Karena, capeeeeeek bo!!!
*sekian dulu curhatnya … i’m so exhausted!!!*





