13 children and 6 adults killed in Villagio Mall Fire.

انا لله وانا الیه راجعون

28 May 2012

My deepest condolences goes to all off those families who lost their loved ones in the Villagio Fire tragedy yesterday.

********************************************************************************************

Kemarin aku tersentak, ketika mendengar kabar bahwa sedang terjadi kebakaran hebat di mall Villagio. Betapa tidak, beberapa menit sebelumnya, aku baru saja mengirimkan sebuah artikel yang mengulas tentang keindahan mall Villagio, ke sebuah salah satu majalah wanita di Indonesia. Dan kabar tidak mengenakkan itu datang.

Terlebih peristiwa kebakaran itu sampai menelan nyawa. Suami mengabarkan, kemungkinan yang kebakaran itu tepat dibagian foodcourt.

Pikiranku segera melayang. Tak terhitung jumlahnya kami duduk, makan dan bersantai di sana. Kini tempat itu berubah menjadi lautan api. Dengan lidahnya siap membakar pengunjung.

Dengan reflek aku segera mencari beritanya melalui browsing di internet. Lagi-lagi hatiku dibuat berdebar, ketika mengetahui 13 nyawa anak-anak melayang di kejadian itu. La hawla wala quwwata illa billa.

Air mata ini mulai menetes.

Diberitakan bahwa 13 anak-anak yang berusia dari 1-3 tahun itu adalah anak-anak yang sedang dititipkan di Gympanzee nursery. Yang memang letaknya berada di dalam Villagio mall. 4 dari guru yang mengajar di sana pun ikut meregang nyawa di peristiwa itu.

Bulu romaku semakin bergidik.

Sekitar 1,5 tahun yang lalu, aku juga sempat menitipkan Nadine di nursery itu. Memang letak pintu masuk nursery itu tepat di tengah dua lorong yang cukup panjang. Tentunya akan sulit untuk keluar dari sana, ditengah kepulan asap pekat.

Dan masih terbayang samar-samar para staff dan guru-guru yang bekerja di Gympanzee nursery. Ya Allah. Sedihnya pasti orang tua yang harus kehilangan anak-anak lucu mereka.

Doaku mengiringi kepergian mereka.

Ya Allah jagalah anakku dari marabahaya ya Rabb. Biarkan dia selalu disampingku. Hiks.

(Udah dulu ah .. Jadi pengen nangis. Terbawa emosi.)

Anda dapat menjelaskan kepada saya … Mengapa?

Mohon maaf sebelumnya, postingan ini ditulis untuk tujuan murni sebagai curahan hati saya sebagai manusia yang sedang merasa kecewa. Tidak ada sama sekali niat terselubung di luar itu. Jadi begini, pada hari Jum’at sekitar dua minggu yang lalu, seperti biasa kami sekeluarga berniat untuk menikmati makan siang bersama di luar. Dan saat itu, kami memutuskan untuk mencoba restoran Indonesia yang katanya baru dibuka di sebuah mall yang terletak tidak jauh dari airport. Tapi sayang, setelah saya hubungi lewat telepon, ternyata restoran itu belum dibuka.

Bapak yang menjawab saya ditelepon dengan ramahnya memberitahukan bahwa restoran akan dibuka tanggal 28  akhir bulan Mei ini. Sedikit kecewa karena tidak jadi makan mie ayam,  akhirnya saya menghubungi seorang teman, untuk menanyakan restoran Indonesia yang lain. Yang juga baru sekitar 2 bulan beroperasi. Saya mendapatkan nomor telepon restoran tersebut. Walau dengan peringatan dari teman, kalau sebenarnya masakan di sana tidak terlalu enak. Peringatan itu aku tepis, mengingat enak tidaknya makanan adalah soal selera.

Dan saya segera menghubungi untuk menanyakan di mana letak persis restoran itu. Seorang ibu menjelaskan pada saya melalui telepon, bahwa letak resto itu di B-ring road, tidak jauh dari crazy signal dan gedung QP. Ketika saya menelpon, saat itu sekitar pukul setengah dua siang. Dan saya mengatakan pada ibu itu, “Oke bu ini kami siap-siap mau berangkat. Terima kasih.” Dan sambungan telepon kuputus. Setelah berpakaian rapi, kami pun segera meluncur ke resto yang dituju. Mengingat perut pun sudah meronta ingin diisi.

Seperti biasa, saya selalu excited jika ingin berkunjung makan siang di restoran Indonesia. Maka itu, saya sengaja makan sangat sedikit ketika sarapan. Menyediakan ruang yang cukup luas, untuk memanjakan perut dengan makanan Indonesia saat makan siang nantinya. Setelah sampai di perempatan crazy signal, karena bingung harus belok ke arah mana, saya telepon lagi restoran itu. Kala itu waktu menunjukkan sekitar pukul 3 kurang 10 menit. Dan ibu itu menjelaskan agar kami belok ke kanan, restoran hanya sekitar 30 meter dari pom bensin, ujarnya begitu.

Setelah berbelok, kami tidak langsung menemukan dimana letak resto itu, karena memang ternyata sangat imut sekali ukurannya. Kami sampai tepat di depan resto mungil itu jam 3 pas. Tidak lebih tidak kurang, mgkn kurang semenit dua menit, tergantung dilihat dari jamnya siapa dulu. Beda jam tangan saya dengan jam suami sekitar 5 menit lebih lambat. *Halah mulai ga fokus*

Kembali ke Resto, sampai di bibir pintu. Kami dipertemukan dengan seorang laki-laki paruh baya, berbicara bahasa Indonesia. Sekaligus bertemu dengan plang plastik yang tergantung di depan pintu resto, yang tertulis closed alias tutup. Saya sempat ternganga sepersekian menit, karena rasa tak percaya dengan tulisan di depan mata.

“Kami tutup bu,” ucap si bapak itu tampaknya mengerti mengapa saya menganga.

“Loh pak, padahal baru 5 menitan yang lalu kan saya telpon. Kok ibunya ga bilang restonya tutup,” jawab saya masih sambil setengah menganga.

“Kami tutup dari jam 3 bu. Buka lagi nanti jam 5.30,”

“Tapi kenapa ibunya tadi ga bilang kalau bakal tutup jam 3. Padahal saya nelpon dr perempatan situ,” udah mulai sedikit memanas. Maklum lah perut udah mulai mengeluarkan bunyi-bunyi menyayat hati.

“Hanya ada saya dan ibu itu di resto ini. Ibu bisa kembali lagi jam 5.30,”

Sebelum menjawab lagi, saya sempat tertegun. Apa maksudnya hanya saya dan ibu di resto? Jadi dia tidak percaya kalau saya sudah menghubungi lewat telepon sebelumnya?

“Tapi pak ….” Jiwa ngotot saya memang rada susah untuk dihilangkan. Untungnya sang Arjuna di sebelah, segera menarik tangan saya. Mengerti kalau bininya udah mulai kebakar alias keki dengan service yang sangat memuaskan para pengusaha restoran Indonesia.

Masuk ke dalam mobil, saya masih berdesau-desau tidak jelas. Bukan hanya kecewa tidak jadi makan iga bakar, tapi kecewa saja sudah ditolak sodara sendiri, untuk sekedar mencicipi hidangan yang mereka tawarkan. Bukankah rejeki sesedikit apa pun tidak boleh ditolak? Saya membayangkan, seumpama saya adalah Dian Sastro, mungkin bapak itu akan dengan ramahnya mempersilahkan saya masuk. Walau memang seharusnya tutup.

Sepanjang perjalanan, dengan perut yang sudah asik berbiola saya hubungin teman saya, dan curhat akan kejadian barusan. Dan itu sedikit melegakan saya :D Eh tapi ternyata, si Doi yang ketika itu menjadi supir, ketularan sewot.

“4 tahun tinggal di Qatar. Baru nemu restoran tutup dari jam 3 sampai jam 5. Apa mereka mau bobo ciang???” ujarnya dengan nada yang sangat menyindiiiiiirrrr ….. Resto Mesir, India, Filipina, atau apalah Sri lanka … Semua tetep buka, dan welcome kepada semua pengunjung.

Ada teman mengatakan, memang peraturan pemerintah Qatar begitu, semua resto yang diluar mall, harus tutup dari jam 3 sampai jam 5 pas hari Jum’at. Maca ciiiiiiihhh??? Ga lah, secara ga cuma sekali itu makan di resto hari Juma’at dan di jam antara pukul 3 dan 5. Atau mungkin peraturan  itu hanya diberlakukan untuk resto Indonesia kali ya? Lantas apa alasannya? Diskriminasi? Tak mungkin kayaknya. Atau …. Ya wajar kali ya, bagaimana tidak didiskriminasi, wong sesama orang Indonesia sendiri aja saling mendiskriminasi. :D *peace aja deh*

Kecewa saya.

Anyway busway, agar postingan ini tidak terlalu panjang. Karena si manis Nadine sudah nyaris merengek-rengek karena kelaparan. Akhirnya hari itu, kami memutuskan untuk makan di restoran China. Yang tentu saja tetap buka jam 3-5 dan welcome dengan semua pengunjung, sekali pun saya bukan orang china looooh!!!

So .. Tolong jelaskan kepada saya. Bagaimana caranya, agar saya bisa bangga menjadi orang Indonesia seutuhnya?

 

Baba Mertua

Pepatah mengatakan, buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.

Masa sih? Coba lihat foto disamping. Itu foto baba (ayah) mertuaku saat masih muda dulu. Ganteng boooo!!! Ganteng banget ya. Badan proporsional, kulit putih, hidung mancung, mata coklat, rahang macho .. perfect lah. Aku yakin kalau jaman dulu dia tinggal di Indonesia, pastilah saingan sama Barry Prima. Hahaha.

Duh beruntung sekali mama mertuaku bisa mendapatkan dia :D

Harusnya manusia seganteng itu, mempunyai keturunan yang seganteng dia juga dong! Ternyata tidak selamanya begitu saudara-saudara!

Anak laki-laki satu-satunya yang ia punya, ternyata badannya tak setinggi dia, kulit yang sama sekali tidak putih malahan mendekati negro, mata hitam pekat sayu mirip mata Onta, Alhamdulillah hidungnya masih mancung. Coba kalau sepesek dan sebangir hidungku. Waduh gawat dooong, bisa-bisa diragukan itu anak siapa! Hahaha.

(Maaf postingan ini sangat ngaco, dan tidak penting untuk dibaca. Sebenarnya diriku ini hanya mau pamer, kalau punya mertua ganteng. Hahaha ga penting banget.)

 

Memancing

Doha adalah surga bagi orang yang hobinya memancing. Termasuk suamiku, yang lebih suka menghabiskan waktu akhir pekannya dengan memancing.

Akhirnya aku jadi tegelitik untuk menuliskan tentang suka duka menjadi seorang istri yang suaminya sangat hobby mancing. Berikut suka dukanya, silahkan menyimak.

Sukanya dulu:

  1. Jika sedang beruntung, ia akan pulang dengan ikan-ikan hasil pancingannya. Ikan-ikan laut yang besar dan segar. Sungguh sangat menggiurkan, apalagi aku dan si kecil senang sekali makan pempek. Hasil tangkapan ini, sudah pasti akan diolah nantinya menjadi pempek-pempek yang yummy dan lezatos.
  2. Mmmmmhhhh …. skip dulu deh … karena aku sulit mencari-cari apalagi sukanya.

Mari sekarang kita lanjut membahas dukanya, karena 5 menit tercenung ingin mendeskripsikan rasa suka , ternyata tidak juga terlintas dalam pikiran.

Baiklah, dan dukanya adalah:

  1. Setiap akhir pekan, berarti si doi lebih suka menghabiskan waktunya duduk berjam-jam di atas boat dan di tengah laut sana. Ketimbang menghabiskan waktu dengan keluarga.
  2. Eh jangan dipikir si doi pergi mancing dengan gratisan, karena dia memilih merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk pergi mancing. Alasannya, katanya agar memberi kami oleh-oleh dan santapan ikan yang segar. Padahal kan di pasar juga banyak ikan segar, dan jika dihitung-hitung malah lebih murah ketimbang harus membayar kartu member club yang harus diperpanjang setahun sekali itu.
  3. Si doi jadi ga ganteng lagi, karena pulang-pulang jadi hitam legam. Matahari di tengah laut telah sukses menggosongkan kulitnya. Serasa nikah sama orang negro. Kalau negro asli ga apa, pas komposisinya. Nah ini …. hadeuuuh.
  4. Setelah seharian tidak di rumah, pulang-pulang datang dengan bau segala amis. Dari badan, baju, tas, box coolman, dll, dst, dan semuanya lah …
  5. Ikan-ikan ituuuuuu … oke deh aku senang karena dapat ikan untuk diolah menjadi pempek. Tapi, siapa yang harus membersihkannya? Membuang sisik dan perutnya?? Hadeeeeuuuhhhh jadi banyak gawe kan kalau begini ceritanya. Coba kalau ikannya tinggal beli di pasar atau supermarket. Tinggal dimasak deh. Ga perlu berjibaku dengan menyisik dan mengosongkan isi perut ikan.
  6. Setelah membersihkan ikan-ikan itu, alhasil jari-jariku menjadi terluka. Terbeset-beset dan periiiih booooo. Derita deh.
  7. Apalagi ya???  … yah kira-kira begitulah …

 

Jadi, siapa saja lah … khusus untuk bapak-bapak yang kebetulan memiliki hoi yang sama dengan suamiku. Dan kebetulan membaca postingan ini. Semoga terinspirasi, untuk juga sedikit membagi waktunya dengan keluarga.

Mungkin memancing itu memang menyenangkan, sebuah hobi yang mampu menghilangkan sedikit frustasi karena rutinitas sehari-hari. Akan tetapi, tak ada salahnya sekali-sekali meluangkan diri untuk bersama keluarga.

Ke mall gitu, atau ke taman kota main-main dengan si kecil. Atau sekedar di rumah menonton tv bersama. Kurasa itu juga mampu menghilangkan sedikit frustasi.

Ingat, istri dan anak juga manusia biasa. Mereka juga butuh sosok suami dan ayah. Tidak melulu membiarkan mereka dengan dunianya, dan si ayah malah asik dengan hobinya.

Mari yuuuk… cari hobi lain. Karena hobi memancing itu tidak fair, kemungkinannya kecil untuk dilakukan bersama keluarga. Karena ga bisa konsen katanya.

Bagaimana dengan hobi jalan kaki? Selain sehat, juga pastinya menyenangkan jika dilakukan bersama keluarga. Iya kan?? *dikemplang bapak-bapak sedunia*

 

 

 

Ego VS Cinta

ImageCatatan ini terinspirasi dari beberapa kerabat wanita di tempat saya bekerja. Di divisi ini, kami wanita hanya tiga orang, selebihnya kaum Adam. Hal itu membuat kami selalu menjadi pusat perhatian, bukan dari kaum Adam, melainkan antar sesama kami sendiri. Kami, atau mereka tepatnya, selalu terlihat berlomba untuk berpenampilan yang se-chic mungkin. Mobil mewah, gadget terbaru, pakaian dan aksesoris branded. Yang menurut mereka hal itu adalah sebuah tuntutan yang harus dipenuhi.

Awalnya saya berpikir hal itu wajar, mengingat saya juga wanita, dan juga penikmat sesuatu yang indah (walau tidak harus mahal). Tapi seiring waktu dan pertemuan di luar tempat kerja, membuat saya berangsur muak. Ternyata saya sedang berada di tengah jeratan hedonisme yang menyesatkan. Seketika sebuah pembatas saya jadikan tameng guna berjaga diri.

Saya benci jika melihat seorang Ibu, yang membiarkan anaknya di depan mata disuapi oleh tangan asistennya. Atau Ibu cantik, bersih dan terawat, namun membiarkan ingus meleleh di hidung anaknya. Atau Ibu yang seksi, tanpa rasa bersalah melihat asisten di depan mata yang sedang menimang dan menyusui bayinya dengan botol susu. Atau Ibu yang kuat serta giat bekerja dengan segudang aktifitasnya, namun terlalu lemah untuk menggendong anaknya ketika menangis dan hanya sekedar butuh hangatnya pelukan.

Anak-anak itu pun sudah tidak lagi serupa dengan wajah Ibunya. Berangsur-angsur gurat wajah sang asisten lebih terlihat jelas pada anak-anak itu.

***

Marquis de Sade pernah berkata, “gairah Nafsu selayaknya dilayani, itu menuntut, itu hasrat, dan itu keharusan.”

Banyak orang mendasarkan hidup mereka pada Cinta. Tapi bukan aku.

Semua tentang aku adalah Nafsu. Aku pernah merasakan Cinta. Sebuah cinta yang membakar dari inti jiwa seperti lava cair yang menghanguskan kulit. Namun tidak berhasil. Cinta mengkhianatiku.

Sejak itu aku telah menggantikan Cinta yang tak terduga, liar dan tidak bisa diandalkan dengan Nafsu. Cinta adalah seorang pelacur yang memberi dirinya kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Tapi Nafsu, Nafsu jauh lebih cerdas dalam seleranya. Kami baik-baik saja, aku dan Nafsu. Kami bergairah, menyendiri, dan pada akhirnya kami mendapatkan apa yang kami inginkan. Cinta adalah memberi. Nafsu itu egois. Ya, aku bergaul dengan Nafsu.

Keadaan ekonomi saat ini membuatku berusaha untuk mencegah Nafsu agar tidak terangsang. Aku tidak dapat memuaskan dirinya. Ia dapat menjadi seorang nyonya yang kejam jika tidak tidur dengan benar. Jadi untuk sekarang, aku harus tetap tenang dengan Nafsu pencarian kecil yang benar-benar diperoleh.

Misalnya, ada waktu ketika aku bisa memuaskan Nafsu dengan sepatu mahal, tas, pakaian, parfum dan perhiasan. Dalam upaya untuk lebih bertanggung jawab agar Nafsu kembali ke prakteknya. Alih-alih berbelanja dengan kantong besar, aku mencoba untuk mendapatkan sebuah palet dari pakaian demi sebuah Taget. Sejauh ini, hal itu tidak bekerja. Aku terus melihat kualitas jahitan dan bahan. Hanya tidak bisa melakukannya.

Maka aku mendedikasikan ini untuk hal-hal yang membuatku bernafsu, namun menolak berutang besar demi mendapatkannya. Maksudku memilikinya? Siapa yang tidak ingin Tas Gucci pink Bambu, Parfum Obligasi 9 Brooklyn, Cincin Diamond Damas atau Perhiasan violet Cartier? Siapa yang akan mengatakan “tidak” untuk setiap hal-hal itu? Jika Kamu menemukan seseorang yang mengatakan tidak, maka aku akan mengatakan bahwa kamu menemukan seseorang yang bodoh.

Materialistik? Mungkin…

Aku lebih suka menyebutnya sadar kualitas.

Kedengarannya lebih fasih.

****

Mungkin itu yang ada di benak mereka atau tidak, bukanlah masalah. Setidaknya saya tidak seperti mereka.  Bahkan tidak tertarik untuk menjadi seperti mereka.  InsyaAllah selalu begitu. Kebahagiaan tertinggi saya adalah Cinta. Cinta dari orang-orang yang saya cintai dan teratas adalah Cinta hakiki dari sang maha Rahman wa Rahim.