Ego VS Cinta

BeRiTa FoTo, QataR, seRba seRbi

ImageCatatan ini terinspirasi dari beberapa kerabat wanita di tempat saya bekerja. Di divisi ini, kami wanita hanya tiga orang, selebihnya kaum Adam. Hal itu membuat kami selalu menjadi pusat perhatian, bukan dari kaum Adam, melainkan antar sesama kami sendiri. Kami, atau mereka tepatnya, selalu terlihat berlomba untuk berpenampilan yang se-chic mungkin. Mobil mewah, gadget terbaru, pakaian dan aksesoris branded. Yang menurut mereka hal itu adalah sebuah tuntutan yang harus dipenuhi.

Awalnya saya berpikir hal itu wajar, mengingat saya juga wanita, dan juga penikmat sesuatu yang indah (walau tidak harus mahal). Tapi seiring waktu dan pertemuan di luar tempat kerja, membuat saya berangsur muak. Ternyata saya sedang berada di tengah jeratan hedonisme yang menyesatkan. Seketika sebuah pembatas saya jadikan tameng guna berjaga diri.

Saya benci jika melihat seorang Ibu, yang membiarkan anaknya di depan mata disuapi oleh tangan asistennya. Atau Ibu cantik, bersih dan terawat, namun membiarkan ingus meleleh di hidung anaknya. Atau Ibu yang seksi, tanpa rasa bersalah melihat asisten di depan mata yang sedang menimang dan menyusui bayinya dengan botol susu. Atau Ibu yang kuat serta giat bekerja dengan segudang aktifitasnya, namun terlalu lemah untuk menggendong anaknya ketika menangis dan hanya sekedar butuh hangatnya pelukan.

Anak-anak itu pun sudah tidak lagi serupa dengan wajah Ibunya. Berangsur-angsur gurat wajah sang asisten lebih terlihat jelas pada anak-anak itu.

***

Marquis de Sade pernah berkata, “gairah Nafsu selayaknya dilayani, itu menuntut, itu hasrat, dan itu keharusan.”

Banyak orang mendasarkan hidup mereka pada Cinta. Tapi bukan aku.

Semua tentang aku adalah Nafsu. Aku pernah merasakan Cinta. Sebuah cinta yang membakar dari inti jiwa seperti lava cair yang menghanguskan kulit. Namun tidak berhasil. Cinta mengkhianatiku.

Sejak itu aku telah menggantikan Cinta yang tak terduga, liar dan tidak bisa diandalkan dengan Nafsu. Cinta adalah seorang pelacur yang memberi dirinya kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Tapi Nafsu, Nafsu jauh lebih cerdas dalam seleranya. Kami baik-baik saja, aku dan Nafsu. Kami bergairah, menyendiri, dan pada akhirnya kami mendapatkan apa yang kami inginkan. Cinta adalah memberi. Nafsu itu egois. Ya, aku bergaul dengan Nafsu.

Keadaan ekonomi saat ini membuatku berusaha untuk mencegah Nafsu agar tidak terangsang. Aku tidak dapat memuaskan dirinya. Ia dapat menjadi seorang nyonya yang kejam jika tidak tidur dengan benar. Jadi untuk sekarang, aku harus tetap tenang dengan Nafsu pencarian kecil yang benar-benar diperoleh.

Misalnya, ada waktu ketika aku bisa memuaskan Nafsu dengan sepatu mahal, tas, pakaian, parfum dan perhiasan. Dalam upaya untuk lebih bertanggung jawab agar Nafsu kembali ke prakteknya. Alih-alih berbelanja dengan kantong besar, aku mencoba untuk mendapatkan sebuah palet dari pakaian demi sebuah Taget. Sejauh ini, hal itu tidak bekerja. Aku terus melihat kualitas jahitan dan bahan. Hanya tidak bisa melakukannya.

Maka aku mendedikasikan ini untuk hal-hal yang membuatku bernafsu, namun menolak berutang besar demi mendapatkannya. Maksudku memilikinya? Siapa yang tidak ingin Tas Gucci pink Bambu, Parfum Obligasi 9 Brooklyn, Cincin Diamond Damas atau Perhiasan violet Cartier? Siapa yang akan mengatakan “tidak” untuk setiap hal-hal itu? Jika Kamu menemukan seseorang yang mengatakan tidak, maka aku akan mengatakan bahwa kamu menemukan seseorang yang bodoh.

Materialistik? Mungkin…

Aku lebih suka menyebutnya sadar kualitas.

Kedengarannya lebih fasih.

****

Mungkin itu yang ada di benak mereka atau tidak, bukanlah masalah. Setidaknya saya tidak seperti mereka.  Bahkan tidak tertarik untuk menjadi seperti mereka.  InsyaAllah selalu begitu. Kebahagiaan tertinggi saya adalah Cinta. Cinta dari orang-orang yang saya cintai dan teratas adalah Cinta hakiki dari sang maha Rahman wa Rahim.

Advertisements

10 thoughts on “Ego VS Cinta

  1. “Siapa yang tidak ingin Tas Gucci pink Bambu, Parfum Obligasi 9 Brooklyn, Cincin Diamond Damas atau Perhiasan violet Cartier? Siapa yang akan mengatakan “tidak” untuk setiap hal-hal itu? Jika Kamu menemukan seseorang yang mengatakan tidak, maka aku akan mengatakan bahwa kamu menemukan seseorang yang bodoh.”

    Saya tidak mau. #eh
    LOL

  2. suka banget sama kalimat terakhirnya mbak..
    semoga kita semua bisa meraih cinta-Nya, Aamiin..
    karena hanya cinta-Nyalah yang paling hakiki..
    🙂

  3. Mbak Icha, pertama-tama suka pada fotonya. Gak bakal nolak kalau ada yang kasih hehehe..Tapi iya sama dengan dirimu. Takan menggantungkan kebahagiaan kepada benda-benda materi..Bisa haus gak kepuguhan nantinya 🙂

  4. yaelah..mbak. Dikau menohok diriku. Masalahnya, ngeliat teman -teman pada blink-blink getu, ngiler-lah diriku, apalagi dah diskon sampai 70 persen, puas sih awalnya, bisa beli …tapi akhirnya nyesel, apalagi ngeliat duit ratusan ribu cuman buat beli tas doank. Tapi gemanaaa mbak…..aku ngga kuat godaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s