Tumpah Pada Aksara

CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP, seRba seRbi

al_jazera

*Sebuah bait goresan pena*

Kupikir, semesta akan mengetuk perlahan kedua kelopak mataku, lalu menyadarkan dari mimpi yang terlampau tinggi. Nyatanya, ia mengejutkan dengan sebuah kenyataan, bahwa kebahagiaanku selama ini sedang menikmati bahagianya yang bisa jadi tanpa aku.

Kini, seringkali aku bertanya-tanya, adakah hujan di tempatnya berpijak? Atau di sekeliling terasa seperti musim semi selamanya?

Semisal ada yang menyebut ini cinta, barangkali hatiku langsung menyetujuinya. Namun akalku, bilang tidak. Sebab akupun tahu, jika cinta tak baik kurelakan begitu saja.

Ini sudah bukan tentang musim yang terus berganti. Ini tentang hati, yang bersikeras masih menanti—meski tak ada yang pasti.

Tanda tanya besar mengganggu dalam benak, sibuk mempertanyakan nyata atau tidak. Di satu sisi aku merelakan bahagiamu, namun di sisi lain bertanya-tanya mengapa bukan denganku. Di satu sisi aku enggan untuk lebih lama menunggu, di sisi lain barangkali masih ada harapan untuk dapat bersatu. Ternyata tak semudah itu menjadi rela, meski untuk melihatnya bahagia.

Semakin aku merasa ini tak adil, semakin pedih terasa di hati. Percuma terus begini. Toh aku di sini, ia dengannya, kita tak mungkin bersama. Baiknya kupadami saja segala bara yang masih menyebut namanya tanpa jeda, agar luka ini tak kubiarkan terus menganga. Baiknya memang tak lagi saling menyapa, sebab sepatah kata darinya mampu memanggil jutaan debar di dadaku.

Seperti tahu betul kelemahanku, semesta selalu menghadirkan-nya. Atau mungkin aku yang diam-diam mengantarkan kenangan tentangnya, hingga pada titik yang terdekat. Berbagai macam hal yang semesta suguhkan, mengapa dialah garis akhir dari segala ingatan?

Rasanya aneh, ketika ingin pergi dari hati yang tak pernah dihuni. Barangkali sama seperti melepas yang tak ada dalam genggaman. Rasanya aneh, ketika harus merelakan hati yang tak pernah dimiliki. Barangkali serupa meninggalkan tempat yang belum sempat kujejaki. Rasanya aneh, ketika harus terluka sebab sesuatu yang kuanggap cinta, padahal ia mungkin saja tak pernah menganggap itu ada. Barangkali serupa menangis tersedu, namun tanpa air mata.

Barangkali serupa aku yang kepadanya, dan titik takdirku yang hanya ingin henti di situ.

-Cha-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s