Langit Tak Perlu Menjelaskan Kenapa Dia Tinggi di Atas

BeRiTa FoTo, CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP, Uncategorized

Kesombongan adalah bentuk sederhana dari kita mengingkari berkah yang sudah Tuhan berikan. Sombong tidak akan meninggikan derajat kita, justru akan terus menyeret kita terperosok dalam lembah yang hina.

IMG-20160504-WA0002

Waktu dan keadaan bisa berubah setiap saat. Sesuai dengan Qada dan QadarAllah yang sudah tertulis. Jangan pernah memandang rendah ataupun menyakiti sesama. Kekuasaan saat ini, tapi ada ‘waktu’ yang lebih berkuasa. Berbuat baik, hidup yang baik, agar ‘waktu’ berputar dengan baik-baik saja.

Advertisements

Dear Dr. Nadine Mohammed Attia

BeRiTa FoTo, CuRHat, Nadine Mohamed Ateya, PeRjaLanaN HiDuP, seRba seRbi

DSC03413

Insha Allah perjalanan ini masih akan panjang .. Sepanjang yang kita inginkan. Semoga kita bisa menikmati setiap detik yang kita jalani. Serta mensyukurinya sebagai anugerah Rabbana yang luar biasa.
Dan memang begitu adanya, hadirmu disampingku selama ini – dengan begituuuu banyak mengorbankan perasaaan- sungguh luar biasa. Dan tak tergantikan.

DSC03420

Nah sekarang tiup lilinnya Anakku Sayang .. dan tersenyumlah sepenuh hatimu. Kurindukan selalu senyum manismu, detik ini, dan untuk selamanya. Selamat ulang tahun nak, semoga tercapai hal-hal indah yang kau cita-citakan. Aamiin

Ya Rabbi .. Jadikanlah anakku seorang anak yang mampu membanggakan keluarga. Serta sholehah yang akan menjadikan kami para ahli surga. Allahumma Aamiin.

Foto Kelas Nadine

BeRiTa FoTo, Nadine Mohamed Ateya, PeRjaLanaN HiDuP, QataR, sekolah Qatar

Sebulan lalu ada sesi foto-foto di sekolah Nadine. Nah kemarin itu foto-fotonya sudah selesai dicetak. Senang campur bangga campur haru melihat foto-foto itu. Bagaimana tidak senang, ketika mendapati anak kandung sendiri bisa tumbuh menjadi gadis yang cantik dan manisnya semanis coklat Ferero Rocher 😀

Dan tentu juga bangga, memiliki anak cute. Secara ibunya punya muka yang pas-pasan. Jadi semacam mimpi begitu, kok bisa punya turunan yang tidak sepesek ibunya. 😀

Harunya satu. Kalau melihat anak yang perasaan baru kemarin saya susui, gendong-gendong, dan memasangi pampers. Ternyata, sekarang sudah tumbuh besar. Tahun ini naik kelas 2. Begitu cepat waktu berlalu. Waktu seolah berlalu secepat kedipan mata.

Nadine kemarin antusias sekali menjelaskan kepada saya dan Daddynya siapa saja yang tertera di dalam foto kelasnya. Ternyata cukup banyak juga anak Indonesia yang satu kelas dengan Nadine. Salah satunya saya sudah sering dengar dari cerita-cerita Nadine sehari-hari. Seorang gadis mungil bernama Neeve, yang ternyata memang paling mungil diantara temannya yang lain di dalam kelas. Neeve itu yang sering mengajarkan Nadine bahasa Indonesia. Saya suka dibuat kaget, kalau Nadine pulang sekolah tiba-tiba berbicara bahasa Indonesia.

Itu yang namanya Neeve, gadis paling mungil di urutan terdepan. Nomor 4 dari sebelah kiri. Hehehe. Lucu-lucu ya anak-anak itu. Seperti yang bisa kita lihat. Banyak wajah-wajah anak Indonesia.

Kemarin juga saya dibuat suprise dengan sahabat dekat Nadine yang bernama Do’a. Selama ini mereka suka telpon-telponan. Yang saya tau. Do’a adalah Qatari. Tapi tidak terbayang wajahnya seperti apa. Ternyata dia itu toh yang bernama Do’a. Hihihi. Gadis berkulit  hitam yang berdiri tepat disebalah kanan Neeve. Orang Qatari memang terbagi atas dua tipe. Yang pertama tipe Arab asli. Yang kedua Afro Arab, yang warna kulitnya menyerupai orang-orang di Afrika sana.

Juga seorang anak laki-laki bernama AlMonzeer, yang juga hitam itu. Berdiri di barisan belakang 5 dari kiri. Dia juga salah satu teman yang paling sering disebut Nadine di rumah. Sampai kalau menggambar ada Al Monzeernya. Dan ternyata hitam juga kayak Sinyo. Hahahaha. Nadine euy seleranya.

Ini Foto terakhir. Di sini Nadine menceritakan tentang Miss nya. Seorang bule yang berasal dari United Kingdom. Namanya Miss Young. Daddy disebelah yang sedang menyimak langsung nyamber seperti geledek, “Cantik ya miss Young.” Gubrak. Minta dijewer 😀

Satu lagi yang wajahnya menyerupai orang Indonesia adalah miss Maryan dari Philipine. Ia bertugas menjadi assistent miss Young di kelas.

Nadine tampak mengagumi mereka berdua. Ya Wajar saja. Setiap hari bertemu. Pastinya terjalin kedekatan antara anak dan guru-gurunya di kelas. Membuat mereka merasa seperti mempunyai ibu lain. Yang mampu membimbing mereka menyelami dunia ilmu di sekolah.

Semoga anakku tumbuh jadi anak yang pintar. Dan kelak citacitanya yang ingin menjadi Dokter dikabulkan Allah SWT. Aamiin. Walau sekarang masih suka labil. Kadang-kadang mau jadi dokter, tapi kalau liat penyanyi Indonesian Idol pengen jadi penyanyi. Liat model di majalah pengen jadi model. Hihihi. Tapi tetep saya panggil dia dokter Nadine di keseharian. Karena insyaAllah, itu yang saya inginkan 😀 *bukan berarti memaksakan hak prerogratif dalam memilih minat dan bakat pada anak loh!*

Ego VS Cinta

BeRiTa FoTo, QataR, seRba seRbi

ImageCatatan ini terinspirasi dari beberapa kerabat wanita di tempat saya bekerja. Di divisi ini, kami wanita hanya tiga orang, selebihnya kaum Adam. Hal itu membuat kami selalu menjadi pusat perhatian, bukan dari kaum Adam, melainkan antar sesama kami sendiri. Kami, atau mereka tepatnya, selalu terlihat berlomba untuk berpenampilan yang se-chic mungkin. Mobil mewah, gadget terbaru, pakaian dan aksesoris branded. Yang menurut mereka hal itu adalah sebuah tuntutan yang harus dipenuhi.

Awalnya saya berpikir hal itu wajar, mengingat saya juga wanita, dan juga penikmat sesuatu yang indah (walau tidak harus mahal). Tapi seiring waktu dan pertemuan di luar tempat kerja, membuat saya berangsur muak. Ternyata saya sedang berada di tengah jeratan hedonisme yang menyesatkan. Seketika sebuah pembatas saya jadikan tameng guna berjaga diri.

Saya benci jika melihat seorang Ibu, yang membiarkan anaknya di depan mata disuapi oleh tangan asistennya. Atau Ibu cantik, bersih dan terawat, namun membiarkan ingus meleleh di hidung anaknya. Atau Ibu yang seksi, tanpa rasa bersalah melihat asisten di depan mata yang sedang menimang dan menyusui bayinya dengan botol susu. Atau Ibu yang kuat serta giat bekerja dengan segudang aktifitasnya, namun terlalu lemah untuk menggendong anaknya ketika menangis dan hanya sekedar butuh hangatnya pelukan.

Anak-anak itu pun sudah tidak lagi serupa dengan wajah Ibunya. Berangsur-angsur gurat wajah sang asisten lebih terlihat jelas pada anak-anak itu.

***

Marquis de Sade pernah berkata, “gairah Nafsu selayaknya dilayani, itu menuntut, itu hasrat, dan itu keharusan.”

Banyak orang mendasarkan hidup mereka pada Cinta. Tapi bukan aku.

Semua tentang aku adalah Nafsu. Aku pernah merasakan Cinta. Sebuah cinta yang membakar dari inti jiwa seperti lava cair yang menghanguskan kulit. Namun tidak berhasil. Cinta mengkhianatiku.

Sejak itu aku telah menggantikan Cinta yang tak terduga, liar dan tidak bisa diandalkan dengan Nafsu. Cinta adalah seorang pelacur yang memberi dirinya kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Tapi Nafsu, Nafsu jauh lebih cerdas dalam seleranya. Kami baik-baik saja, aku dan Nafsu. Kami bergairah, menyendiri, dan pada akhirnya kami mendapatkan apa yang kami inginkan. Cinta adalah memberi. Nafsu itu egois. Ya, aku bergaul dengan Nafsu.

Keadaan ekonomi saat ini membuatku berusaha untuk mencegah Nafsu agar tidak terangsang. Aku tidak dapat memuaskan dirinya. Ia dapat menjadi seorang nyonya yang kejam jika tidak tidur dengan benar. Jadi untuk sekarang, aku harus tetap tenang dengan Nafsu pencarian kecil yang benar-benar diperoleh.

Misalnya, ada waktu ketika aku bisa memuaskan Nafsu dengan sepatu mahal, tas, pakaian, parfum dan perhiasan. Dalam upaya untuk lebih bertanggung jawab agar Nafsu kembali ke prakteknya. Alih-alih berbelanja dengan kantong besar, aku mencoba untuk mendapatkan sebuah palet dari pakaian demi sebuah Taget. Sejauh ini, hal itu tidak bekerja. Aku terus melihat kualitas jahitan dan bahan. Hanya tidak bisa melakukannya.

Maka aku mendedikasikan ini untuk hal-hal yang membuatku bernafsu, namun menolak berutang besar demi mendapatkannya. Maksudku memilikinya? Siapa yang tidak ingin Tas Gucci pink Bambu, Parfum Obligasi 9 Brooklyn, Cincin Diamond Damas atau Perhiasan violet Cartier? Siapa yang akan mengatakan “tidak” untuk setiap hal-hal itu? Jika Kamu menemukan seseorang yang mengatakan tidak, maka aku akan mengatakan bahwa kamu menemukan seseorang yang bodoh.

Materialistik? Mungkin…

Aku lebih suka menyebutnya sadar kualitas.

Kedengarannya lebih fasih.

****

Mungkin itu yang ada di benak mereka atau tidak, bukanlah masalah. Setidaknya saya tidak seperti mereka.  Bahkan tidak tertarik untuk menjadi seperti mereka.  InsyaAllah selalu begitu. Kebahagiaan tertinggi saya adalah Cinta. Cinta dari orang-orang yang saya cintai dan teratas adalah Cinta hakiki dari sang maha Rahman wa Rahim.

Quality Time

BeRiTa FoTo, Nadine Mohamed Ateya, PeRjaLanaN HiDuP, QataR

Sesibuk apa pun, serta sesempit apa pun waktu yang saya punya dalam sehari, saya selalu berusaha meluangkan waktu untuk Nadine. Memasukkan dia ke sebuah club renang, adalah salah satu cara saya menggunakan waktu, agar lebih terasa kualitasnya. Dan yang lebih menyenangkan, karena di Doha baru dibuka sports club baru. Lebih bersih, lebih sepi dan yang pasti lebih MURAH dibandingkan dengan Aspire. Namanya juga baru buka, setiap yang mendaftar pastilah dapat potongan 50% dengan harga yang super bikin ngiler.

Yang menyenangkan lagi, berbeda dengan club tempat Nadine sebelumnya, kartu anggota di club ini bisa dipakai untuk masuk sportshall kapan saja, diluar jadwal berenang dengan trainer. Bisa menjadi bahan cadangan, jika suatu waktu don’t know to do, saya akan segera menggeret Nadine ke tempat ini. Membiarkan dia berkecipak ala bebek di dalam air.

Walaupun tidak ikut menyemplungkan diri ke kolam renang, setidaknya melihat anak sendiri tertawa-tawa lepas, dan sedikit-sedikit melambaikan tangannya kepada saya, sudah mampu membuat saya merasa ‘berarti’ untuk anak. Mungkin beberapa orang berpikir bahwa saya emak-emak aneh, tetapi memang begitulah yang saya rasakan.

Nah ini ada hubungannya dengan berenang. Maksudnya, membaca buku juga termasuk quality time. Toh dari kecil saya  memang termasuk manusia gila baca buku. Tapi sayangnya, beberapa tahun terakhir ini rasanya tidak cukup punya banyak waktu untuk melahap para buku. Bahkan beberapa buku yang saya beli di Indonesia dua tahun lalu, masih menumpuk manis, rapih, berikut plastiknya yang masih tertutup rapat. Entah saya adalah manusia yang cenderung shopbookaholic. Atau …

Ah entahlah…

Tapi bukan ‘gila’ buku namanya, kalau berhenti membeli buku. Hehehehe. Kemarin itu di Virgin store Doha ada discount buku. Mulai deh kepala gatel dan maruk kalau melihat buku-buku memanggil untuk dibeli. Mengingat, mencari alasan tepatnya, seminggu sekali mengantar Nadine berenang, dari pada bengong atau mainan mobilephone yang seringnya menjerit-jerit lowbat. Atau ngobrol dengan ibu-ibu Arab yang juga kebetulan sedang menunggu anaknya, yang tema pembicaraannya hanya seputar makanaaan melulu. Saya akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa novel dan buku yang lumayan menarik. Dan INSYAALLAH akan membacanya jika menunggu Nadine berenang.

Pas kemarin sampai rumah, dengan plastik berisi buku-buku, eh si Babe ngedumel, “Beli doang, dibaca juga enggak!”

Jiaaaaaaaaah kena deh!… saya memilih diam. Semua akan indah pada waktunya. Termasuk buku-buku itu. Kali aja saya akan membacanya pas lagi asyik berjemur di atas kapal cruise menuju Madive Island. :p Dreamingaholic.