Dear Dr. Nadine Mohammed Attia

BeRiTa FoTo, CuRHat, Nadine Mohamed Ateya, PeRjaLanaN HiDuP, seRba seRbi

DSC03413

Insha Allah perjalanan ini masih akan panjang .. Sepanjang yang kita inginkan. Semoga kita bisa menikmati setiap detik yang kita jalani. Serta mensyukurinya sebagai anugerah Rabbana yang luar biasa.
Dan memang begitu adanya, hadirmu disampingku selama ini – dengan begituuuu banyak mengorbankan perasaaan- sungguh luar biasa. Dan tak tergantikan.

DSC03420

Nah sekarang tiup lilinnya Anakku Sayang .. dan tersenyumlah sepenuh hatimu. Kurindukan selalu senyum manismu, detik ini, dan untuk selamanya. Selamat ulang tahun nak, semoga tercapai hal-hal indah yang kau cita-citakan. Aamiin

Ya Rabbi .. Jadikanlah anakku seorang anak yang mampu membanggakan keluarga. Serta sholehah yang akan menjadikan kami para ahli surga. Allahumma Aamiin.

Foto Kelas Nadine

BeRiTa FoTo, Nadine Mohamed Ateya, PeRjaLanaN HiDuP, QataR, sekolah Qatar

Sebulan lalu ada sesi foto-foto di sekolah Nadine. Nah kemarin itu foto-fotonya sudah selesai dicetak. Senang campur bangga campur haru melihat foto-foto itu. Bagaimana tidak senang, ketika mendapati anak kandung sendiri bisa tumbuh menjadi gadis yang cantik dan manisnya semanis coklat Ferero Rocher 😀

Dan tentu juga bangga, memiliki anak cute. Secara ibunya punya muka yang pas-pasan. Jadi semacam mimpi begitu, kok bisa punya turunan yang tidak sepesek ibunya. 😀

Harunya satu. Kalau melihat anak yang perasaan baru kemarin saya susui, gendong-gendong, dan memasangi pampers. Ternyata, sekarang sudah tumbuh besar. Tahun ini naik kelas 2. Begitu cepat waktu berlalu. Waktu seolah berlalu secepat kedipan mata.

Nadine kemarin antusias sekali menjelaskan kepada saya dan Daddynya siapa saja yang tertera di dalam foto kelasnya. Ternyata cukup banyak juga anak Indonesia yang satu kelas dengan Nadine. Salah satunya saya sudah sering dengar dari cerita-cerita Nadine sehari-hari. Seorang gadis mungil bernama Neeve, yang ternyata memang paling mungil diantara temannya yang lain di dalam kelas. Neeve itu yang sering mengajarkan Nadine bahasa Indonesia. Saya suka dibuat kaget, kalau Nadine pulang sekolah tiba-tiba berbicara bahasa Indonesia.

Itu yang namanya Neeve, gadis paling mungil di urutan terdepan. Nomor 4 dari sebelah kiri. Hehehe. Lucu-lucu ya anak-anak itu. Seperti yang bisa kita lihat. Banyak wajah-wajah anak Indonesia.

Kemarin juga saya dibuat suprise dengan sahabat dekat Nadine yang bernama Do’a. Selama ini mereka suka telpon-telponan. Yang saya tau. Do’a adalah Qatari. Tapi tidak terbayang wajahnya seperti apa. Ternyata dia itu toh yang bernama Do’a. Hihihi. Gadis berkulit  hitam yang berdiri tepat disebalah kanan Neeve. Orang Qatari memang terbagi atas dua tipe. Yang pertama tipe Arab asli. Yang kedua Afro Arab, yang warna kulitnya menyerupai orang-orang di Afrika sana.

Juga seorang anak laki-laki bernama AlMonzeer, yang juga hitam itu. Berdiri di barisan belakang 5 dari kiri. Dia juga salah satu teman yang paling sering disebut Nadine di rumah. Sampai kalau menggambar ada Al Monzeernya. Dan ternyata hitam juga kayak Sinyo. Hahahaha. Nadine euy seleranya.

Ini Foto terakhir. Di sini Nadine menceritakan tentang Miss nya. Seorang bule yang berasal dari United Kingdom. Namanya Miss Young. Daddy disebelah yang sedang menyimak langsung nyamber seperti geledek, “Cantik ya miss Young.” Gubrak. Minta dijewer 😀

Satu lagi yang wajahnya menyerupai orang Indonesia adalah miss Maryan dari Philipine. Ia bertugas menjadi assistent miss Young di kelas.

Nadine tampak mengagumi mereka berdua. Ya Wajar saja. Setiap hari bertemu. Pastinya terjalin kedekatan antara anak dan guru-gurunya di kelas. Membuat mereka merasa seperti mempunyai ibu lain. Yang mampu membimbing mereka menyelami dunia ilmu di sekolah.

Semoga anakku tumbuh jadi anak yang pintar. Dan kelak citacitanya yang ingin menjadi Dokter dikabulkan Allah SWT. Aamiin. Walau sekarang masih suka labil. Kadang-kadang mau jadi dokter, tapi kalau liat penyanyi Indonesian Idol pengen jadi penyanyi. Liat model di majalah pengen jadi model. Hihihi. Tapi tetep saya panggil dia dokter Nadine di keseharian. Karena insyaAllah, itu yang saya inginkan 😀 *bukan berarti memaksakan hak prerogratif dalam memilih minat dan bakat pada anak loh!*

Quality Time

BeRiTa FoTo, Nadine Mohamed Ateya, PeRjaLanaN HiDuP, QataR

Sesibuk apa pun, serta sesempit apa pun waktu yang saya punya dalam sehari, saya selalu berusaha meluangkan waktu untuk Nadine. Memasukkan dia ke sebuah club renang, adalah salah satu cara saya menggunakan waktu, agar lebih terasa kualitasnya. Dan yang lebih menyenangkan, karena di Doha baru dibuka sports club baru. Lebih bersih, lebih sepi dan yang pasti lebih MURAH dibandingkan dengan Aspire. Namanya juga baru buka, setiap yang mendaftar pastilah dapat potongan 50% dengan harga yang super bikin ngiler.

Yang menyenangkan lagi, berbeda dengan club tempat Nadine sebelumnya, kartu anggota di club ini bisa dipakai untuk masuk sportshall kapan saja, diluar jadwal berenang dengan trainer. Bisa menjadi bahan cadangan, jika suatu waktu don’t know to do, saya akan segera menggeret Nadine ke tempat ini. Membiarkan dia berkecipak ala bebek di dalam air.

Walaupun tidak ikut menyemplungkan diri ke kolam renang, setidaknya melihat anak sendiri tertawa-tawa lepas, dan sedikit-sedikit melambaikan tangannya kepada saya, sudah mampu membuat saya merasa ‘berarti’ untuk anak. Mungkin beberapa orang berpikir bahwa saya emak-emak aneh, tetapi memang begitulah yang saya rasakan.

Nah ini ada hubungannya dengan berenang. Maksudnya, membaca buku juga termasuk quality time. Toh dari kecil saya  memang termasuk manusia gila baca buku. Tapi sayangnya, beberapa tahun terakhir ini rasanya tidak cukup punya banyak waktu untuk melahap para buku. Bahkan beberapa buku yang saya beli di Indonesia dua tahun lalu, masih menumpuk manis, rapih, berikut plastiknya yang masih tertutup rapat. Entah saya adalah manusia yang cenderung shopbookaholic. Atau …

Ah entahlah…

Tapi bukan ‘gila’ buku namanya, kalau berhenti membeli buku. Hehehehe. Kemarin itu di Virgin store Doha ada discount buku. Mulai deh kepala gatel dan maruk kalau melihat buku-buku memanggil untuk dibeli. Mengingat, mencari alasan tepatnya, seminggu sekali mengantar Nadine berenang, dari pada bengong atau mainan mobilephone yang seringnya menjerit-jerit lowbat. Atau ngobrol dengan ibu-ibu Arab yang juga kebetulan sedang menunggu anaknya, yang tema pembicaraannya hanya seputar makanaaan melulu. Saya akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa novel dan buku yang lumayan menarik. Dan INSYAALLAH akan membacanya jika menunggu Nadine berenang.

Pas kemarin sampai rumah, dengan plastik berisi buku-buku, eh si Babe ngedumel, “Beli doang, dibaca juga enggak!”

Jiaaaaaaaaah kena deh!… saya memilih diam. Semua akan indah pada waktunya. Termasuk buku-buku itu. Kali aja saya akan membacanya pas lagi asyik berjemur di atas kapal cruise menuju Madive Island. :p Dreamingaholic.

Curhat mencegah Jerawat.

BeRiTa FoTo, CuRHat, Nadine Mohamed Ateya, PeRjaLanaN HiDuP, QataR

Sebagai seorang istri, juga seorang ibu dan ditambah status wanita karier yang aku emban di satu punggung. Jujur, aku merasa letih. Aku seolah kekurangan waktu yang disediakan selama 24 jam dalam sehari. Berharap ada tambahan saja 2-3 jam, sejenak untukku meregang, meluruskan syaraf-syaraf tubuhku yang menegang oleh kesibukan.

Pukul lima mata ini sudah terbuka, aliran air wudhu yang membasahi setiap bagian yang wajib di aliri menyegarkanku seketika. Hangatnya darah yang mengalir ke kepalaku ketika bersujud subuh seolah antihistamin yang membiusku agar dapat selalu on sepanjang hari. Menyiapkan sarapan anak dan suami, bekal sekolah, seragam, dan bersabar dengan kemacetan mengantar anak ke sekolah lalu berputar haluan dan bertemu lagi kemacetan selama menuju kantor. Sudah menjadi ritual lazim di pagi hari. Untungnya ritual ini hanya dijalankan 5 hari dalam seminggu.

Kesibukan di kantor, kolega caper dan selalu ingin tahu urusan yang lain, serta permasalahan belantika perkantoran, hal biasa bagai santapan sehari-hari. Aku pun sudah kenyang bahkan muak untuk menikmatinya.

Waktu sore tiba, lagi-lagi berjibaku dengan kemacetan lalu lintas. Namun menjemput belahan hati adalah kebahagiaan tersendiri untukku. 8 jam terpisah, selalu saja membuatku teramat rindu untuk melihatnya. Wajahnya yang selalu tersenyum saat melihatku, dengan rambutnya yang lepek berkeringat namun tetap lincah tanpa terlihat raut letih di wajahnya. Oh sayangku, betapa mama ingin selalu ada menemanimu.

***

Sesampainya di rumah, yang selalu kujaga kebersihan serta keapikannya. Statusku beralih menjadi seorang ibu rumah tangga. Hal yang pertama kulakukan setelah mengganti pakaian kantor dengan daster rumah yang nyaman adalah menyiapkan hidangan yang lezat dan bergizi untuk keluarga. Kegiatan memasak kusambi dengan berbagai hal, menyapu, memasukkan pakaian ke mesin cuci,  mengelap kaca dan perabotan, membereskan kamar tidur, terkadang aku juga menyambinya dengan face book an 😀

Proses memasak selesai, dengan keadaan fisik yang sudah mendekati titik ‘kelelahan’ harus menemani anak makan dan mengerjakan homework, berharap ia akan menajdi anak yang berprestasi di sekolah. Selesai itu memandikannya agar kembali wangi. Waktu ibadah pun insyaAllah tidak akan pernah lepas dari jadwal sehari-hari.

Saat kulirik jam dinding yang tergantung manis di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Selebihnya waktu, masih banyak pekerjaan rumah yang lain masih menunggu. Setrikaan yang tidak pernah habis, debu di halaman rumah yang tidak pernah menipis, menunggu suami pulang yang terkadang sampai jam 9 malam.

Belum lagi jadwal belanja 2 mingguan yang mau tidak mau harus dilaksanakan olehku seorang diri. Menggeret galon air dan tabung gas … sungguh jelas mengapa surga itu berada di telapak kaki ibu. Karena, capeeeeeek bo!!!

*sekian dulu curhatnya … i’m so exhausted!!!*

Alhamdulillah … Urusan sekolah beres.

BeRiTa FoTo, CuRHat, Nadine Mohamed Ateya, PeRjaLanaN HiDuP, QataR, sekolah Qatar

Masih bersambung dari postingan sebelumnya.

Alhamdulillah … Lega, haru, bahagia, tenang menghiasi perasaanku pada tanggal 12 kemarin.

Setelah melalui test dan wawancara, akhirnya Nadine (5,3 tahun) keterima untuk masuk Grade 1 di Cambridge International School Doha. Sempat ketar ketir sebelumnya. Karena sudah keburu mendengar isu2, kalau test dan wawancara nya susah.

Untuk masuk grade 1, pertama anak di test membaca. Dari 50 kata yg tersedia, minimal anak bisa membaca sedikitnya 10 kata dari kata2 yg tersedia. Kata2 nya simple sebenernya, seperti cat, dog, run. Tapi untuk anak seumuran 5-6tahun. Rasanya tetap terasa susah yah rasanya tuk bisa membaca.

Untuk test menulis, calon murid dilihat kemampuannya dalam menulis huruf2 serta angka mulai dari 1-20.

Selain membaca dan menulis juga ada test matematik, seperti penambahan dan pengurangan. Disini, sebenernya/sepertinya tidak diharuskan calon murid benar2 menguasai matematika. Karena Nadine hanya bisa menjawab 1+1 dan 2+2. Pas ditanya yg lain2, apalagi pengurangan, Nadine selalu bilang i don’t know ..

Hehehe .. entah alhamdulillah tapi ujung2nya diterima.

Setelah test, gurunya mendatangi aku. Dia bilang, it’s OK, no problem with mathematic, i think Nadine is clever.

Huah … rasanya pengen tepuk2 dan lompat2 pas denger itu. Ibu mana coba yang ga GeEr anaknya dibilang pinter 😀 ..

Well … selamat anakku sayang. Semoga menjadi anak yg rajin dan pintar disekolah yah sayaaaang 🙂 Mama loves you a lot!!!