Tumpah Pada Aksara

CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP, seRba seRbi

al_jazera

*Sebuah bait goresan pena*

Kupikir, semesta akan mengetuk perlahan kedua kelopak mataku, lalu menyadarkan dari mimpi yang terlampau tinggi. Nyatanya, ia mengejutkan dengan sebuah kenyataan, bahwa kebahagiaanku selama ini sedang menikmati bahagianya yang bisa jadi tanpa aku.

Kini, seringkali aku bertanya-tanya, adakah hujan di tempatnya berpijak? Atau di sekeliling terasa seperti musim semi selamanya?

Semisal ada yang menyebut ini cinta, barangkali hatiku langsung menyetujuinya. Namun akalku, bilang tidak. Sebab akupun tahu, jika cinta tak baik kurelakan begitu saja.

Ini sudah bukan tentang musim yang terus berganti. Ini tentang hati, yang bersikeras masih menanti—meski tak ada yang pasti.

Tanda tanya besar mengganggu dalam benak, sibuk mempertanyakan nyata atau tidak. Di satu sisi aku merelakan bahagiamu, namun di sisi lain bertanya-tanya mengapa bukan denganku. Di satu sisi aku enggan untuk lebih lama menunggu, di sisi lain barangkali masih ada harapan untuk dapat bersatu. Ternyata tak semudah itu menjadi rela, meski untuk melihatnya bahagia.

Semakin aku merasa ini tak adil, semakin pedih terasa di hati. Percuma terus begini. Toh aku di sini, ia dengannya, kita tak mungkin bersama. Baiknya kupadami saja segala bara yang masih menyebut namanya tanpa jeda, agar luka ini tak kubiarkan terus menganga. Baiknya memang tak lagi saling menyapa, sebab sepatah kata darinya mampu memanggil jutaan debar di dadaku.

Seperti tahu betul kelemahanku, semesta selalu menghadirkan-nya. Atau mungkin aku yang diam-diam mengantarkan kenangan tentangnya, hingga pada titik yang terdekat. Berbagai macam hal yang semesta suguhkan, mengapa dialah garis akhir dari segala ingatan?

Rasanya aneh, ketika ingin pergi dari hati yang tak pernah dihuni. Barangkali sama seperti melepas yang tak ada dalam genggaman. Rasanya aneh, ketika harus merelakan hati yang tak pernah dimiliki. Barangkali serupa meninggalkan tempat yang belum sempat kujejaki. Rasanya aneh, ketika harus terluka sebab sesuatu yang kuanggap cinta, padahal ia mungkin saja tak pernah menganggap itu ada. Barangkali serupa menangis tersedu, namun tanpa air mata.

Barangkali serupa aku yang kepadanya, dan titik takdirku yang hanya ingin henti di situ.

-Cha-

Dear Dr. Nadine Mohammed Attia

BeRiTa FoTo, CuRHat, Nadine Mohamed Ateya, PeRjaLanaN HiDuP, seRba seRbi

DSC03413

Insha Allah perjalanan ini masih akan panjang .. Sepanjang yang kita inginkan. Semoga kita bisa menikmati setiap detik yang kita jalani. Serta mensyukurinya sebagai anugerah Rabbana yang luar biasa.
Dan memang begitu adanya, hadirmu disampingku selama ini – dengan begituuuu banyak mengorbankan perasaaan- sungguh luar biasa. Dan tak tergantikan.

DSC03420

Nah sekarang tiup lilinnya Anakku Sayang .. dan tersenyumlah sepenuh hatimu. Kurindukan selalu senyum manismu, detik ini, dan untuk selamanya. Selamat ulang tahun nak, semoga tercapai hal-hal indah yang kau cita-citakan. Aamiin

Ya Rabbi .. Jadikanlah anakku seorang anak yang mampu membanggakan keluarga. Serta sholehah yang akan menjadikan kami para ahli surga. Allahumma Aamiin.

Kepastian Cinta yang Tertunda

CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP, seRba seRbi

Kepastian dan Tertunda.

Cibodas Manda

Dua kata yang hanya terhalang oleh tabir tipis. Rancu, dan tak dapat diterka. Seperti kata Benci dan Cinta. Aku berdiri di sini dan dapat melihat keduanya. Jelas!  Sangat jelas. Ketika menengok ke arah ‘Kepastian’, aku melihatnya sedang menatapku tajam, namun teduh menggoda. Dari mata itu kulihat harapan dan kebahagiaan. Aku dapat melihat keindahan surgawi di sana. Seketika tersenyumlah bibir ini diikuti dengan jiwa yang ikut mengembangkan sebuah senyum secerah mentari pagi.

Tapi saat aku sedang terlena dengan kenyamanan itu, ‘Tertunda’ selalu saja memanggilku dengan berteriak lantang. Memekakkan telinga, menghunus kalbu. Ia selalu memaksaku untuk bangun dari mimpi indah. Ah teganya kau ‘Tertunda’! Apa kamu tau kalau aku sudah jemu berdiri di sini sepanjang waktu? Biarkan aku kesana, bersama ‘Kepastian’ yang tampan itu. Biarkan dia memelukku erat.

Namun kenyataannya dan terlalu sering terjadi, ‘Tertunda’ yang berpangkat Jenderal Bintang Satu itu, selalu saja menahanku dengan suaranya yang menggelegar itu, “Tunggu! sabar! Tetaplah dulu berdiri di sana, aku masih suka memandang parasmu gelisah berdiri di sana.”

Jika sudah seperti itu, aku pun tak pernah kuasa untuk menolak. Aku harus tetap diam tak bergeming di sini. Sembari sesekali kutengok cintaku si tampan ‘Kepastian’ itu. Tunggu aku di sana ya.

———

Ada kala keduanya enggan menyapaku, ‘Kepastian’  dan ‘Tertunda’ tampaknya muak melihatku di sana. Terombang-ambing lah aku di tengah kegelapan. Au ah gelap! Kebosanan akan penantian ‘Kepastian’ serta kemirisan akan ‘Tertunda’, melayangkan jiwaku tak tentu arah.

Beruntung aku masih punya Tuhan, azza wajalla. Ia yang bernaung di atas segalanya. ‘Kepastian’ dan ‘Tertunda’ pasti tunduk di bawah perintahNya. Ia selalu meyakinkanku akan sebuah janjiNya. JanjiNya dari dulu dan tercatat di Lauhul Mahfuzh, untuk semua manusia-manusia seperti aku.

Lantunkan doamu dalam sujudmu, saat kau berdiri di penantian itu. Jangan pernah jengah. Maka akan kuberi kau ‘Kepastian’ atas bayaran dari ribuan hari-harimu yang bersabar bercengkerama dengan ‘Tertunda’.

Ya, aku harus percaya itu. Itu keyakinanku. Keyakinan yang selalu membuatku dapat bertahan dan hidup. Keyakinan akan sebuah JANJI ALLAH yang akan kuraih nanti.

Dear Rabb, aku tak akan pernah sanggup melanjutkan apa-apa yang masih Engkau tunda. Dan aku juga tak akan pernah bisa menunda apa-apa yang Engkau suratkan terhadapku. Maka kuatkan lah hati ini ya Rabb, ketika aku masih belum pantas untuk menerima sebuah ‘Kepastian’ yang kuharapkan.

Semua jawab ‘Kepastian’ adalah kuasa Mu.

Pasti … Untuk itu aku menunggu. Seperti sebuah kematian yang akan datang.

Pasti.

 

 

Manusia Biasa

CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP, seRba seRbi

Saat derita terasa terus menghantam

Mungkin kamu bingung, mereka bingung dan semua bingung. Terjebak dalam kebingungan. Aku pun begitu. Semakin diselami, semakin rumit hal yang ada. Dia membesarkan, kamu membesarkan, mereka membesarkan, dan aku? Aku semakin ciut, terpojok dan terpuruk akan tuduhan yang terjadi. Bahkan aku dipaksa untuk kehilangan.

Mungkin aku memang terlalu aneh, dan kamu tidak akan dapat mengerti akan maksudku. Karena batin ini tidak ada yang dapat membaca. Niatku, langkahku, serta tindakanku tak dapat kamu terka. Aku dilahirkan untuk begini. Bersahabat dengan kerasnya dunia. Dan aku terbentuk untuk itu. Menikmati setiap liku yang ada.

Jangan! Jangan kamu tega menuduh aku, apabila aku tampak tidak seperti wanita yang lain. Kasar dan kerasku ini, bukan berarti aku tidak mempunyai hati seperti wanita-wanita lain. Kodratku tetaplah seorang wanita. Dimana aku mendamba akan sebuah kelembutan.

Hey .. renungkan sejenak. Untuk aku.

Aku tidak terlahir untuk mengemban kata kesempurnaan. Diri ini sama saja seperti dirimu. Seorang manusia biasa. Bukan malaikat yang tak bersayap. Atau bidadari kahyangan. Tapi aku juga bukan iblis yang berbalut daging dan mempunyai nadi. Aku seperti kamu.

MANUSIA

Cukup perlakukan aku seperti aku memperlakukanmu. Terima kekhilafanku seperti aku menerima kesalahanmu. Pahami kekuranganku sebagaimana aku selalu memuji akan sisi lebihmu. Aku seperti kamu…

MANUSIA BIASA

Coba kamu tanya hati kecilmu, apa yang Ia bisikkan padamu?

 

 

Ego VS Cinta

BeRiTa FoTo, QataR, seRba seRbi

ImageCatatan ini terinspirasi dari beberapa kerabat wanita di tempat saya bekerja. Di divisi ini, kami wanita hanya tiga orang, selebihnya kaum Adam. Hal itu membuat kami selalu menjadi pusat perhatian, bukan dari kaum Adam, melainkan antar sesama kami sendiri. Kami, atau mereka tepatnya, selalu terlihat berlomba untuk berpenampilan yang se-chic mungkin. Mobil mewah, gadget terbaru, pakaian dan aksesoris branded. Yang menurut mereka hal itu adalah sebuah tuntutan yang harus dipenuhi.

Awalnya saya berpikir hal itu wajar, mengingat saya juga wanita, dan juga penikmat sesuatu yang indah (walau tidak harus mahal). Tapi seiring waktu dan pertemuan di luar tempat kerja, membuat saya berangsur muak. Ternyata saya sedang berada di tengah jeratan hedonisme yang menyesatkan. Seketika sebuah pembatas saya jadikan tameng guna berjaga diri.

Saya benci jika melihat seorang Ibu, yang membiarkan anaknya di depan mata disuapi oleh tangan asistennya. Atau Ibu cantik, bersih dan terawat, namun membiarkan ingus meleleh di hidung anaknya. Atau Ibu yang seksi, tanpa rasa bersalah melihat asisten di depan mata yang sedang menimang dan menyusui bayinya dengan botol susu. Atau Ibu yang kuat serta giat bekerja dengan segudang aktifitasnya, namun terlalu lemah untuk menggendong anaknya ketika menangis dan hanya sekedar butuh hangatnya pelukan.

Anak-anak itu pun sudah tidak lagi serupa dengan wajah Ibunya. Berangsur-angsur gurat wajah sang asisten lebih terlihat jelas pada anak-anak itu.

***

Marquis de Sade pernah berkata, “gairah Nafsu selayaknya dilayani, itu menuntut, itu hasrat, dan itu keharusan.”

Banyak orang mendasarkan hidup mereka pada Cinta. Tapi bukan aku.

Semua tentang aku adalah Nafsu. Aku pernah merasakan Cinta. Sebuah cinta yang membakar dari inti jiwa seperti lava cair yang menghanguskan kulit. Namun tidak berhasil. Cinta mengkhianatiku.

Sejak itu aku telah menggantikan Cinta yang tak terduga, liar dan tidak bisa diandalkan dengan Nafsu. Cinta adalah seorang pelacur yang memberi dirinya kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Tapi Nafsu, Nafsu jauh lebih cerdas dalam seleranya. Kami baik-baik saja, aku dan Nafsu. Kami bergairah, menyendiri, dan pada akhirnya kami mendapatkan apa yang kami inginkan. Cinta adalah memberi. Nafsu itu egois. Ya, aku bergaul dengan Nafsu.

Keadaan ekonomi saat ini membuatku berusaha untuk mencegah Nafsu agar tidak terangsang. Aku tidak dapat memuaskan dirinya. Ia dapat menjadi seorang nyonya yang kejam jika tidak tidur dengan benar. Jadi untuk sekarang, aku harus tetap tenang dengan Nafsu pencarian kecil yang benar-benar diperoleh.

Misalnya, ada waktu ketika aku bisa memuaskan Nafsu dengan sepatu mahal, tas, pakaian, parfum dan perhiasan. Dalam upaya untuk lebih bertanggung jawab agar Nafsu kembali ke prakteknya. Alih-alih berbelanja dengan kantong besar, aku mencoba untuk mendapatkan sebuah palet dari pakaian demi sebuah Taget. Sejauh ini, hal itu tidak bekerja. Aku terus melihat kualitas jahitan dan bahan. Hanya tidak bisa melakukannya.

Maka aku mendedikasikan ini untuk hal-hal yang membuatku bernafsu, namun menolak berutang besar demi mendapatkannya. Maksudku memilikinya? Siapa yang tidak ingin Tas Gucci pink Bambu, Parfum Obligasi 9 Brooklyn, Cincin Diamond Damas atau Perhiasan violet Cartier? Siapa yang akan mengatakan “tidak” untuk setiap hal-hal itu? Jika Kamu menemukan seseorang yang mengatakan tidak, maka aku akan mengatakan bahwa kamu menemukan seseorang yang bodoh.

Materialistik? Mungkin…

Aku lebih suka menyebutnya sadar kualitas.

Kedengarannya lebih fasih.

****

Mungkin itu yang ada di benak mereka atau tidak, bukanlah masalah. Setidaknya saya tidak seperti mereka.  Bahkan tidak tertarik untuk menjadi seperti mereka.  InsyaAllah selalu begitu. Kebahagiaan tertinggi saya adalah Cinta. Cinta dari orang-orang yang saya cintai dan teratas adalah Cinta hakiki dari sang maha Rahman wa Rahim.