Kepastian dalam Ketidakpastian

CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP, seRba seRbi, Uncategorized

Sesuatu yang pasti adalah ketidakpastian. Tidak ada sesuatu pun yang pasti selain ‘ketidakpastian’ itu. Seperti kepastian akan datangnya hari esok yang sejatinya bahwa hari esok itu benar áda’ pun adalah ‘ketidakpastian’.

IMG-20170324-WA0035

Jika mencintai seseorang berarti kita berusaha membuat yang kita cintai bahagia. Bagaimana jika yang kita cintai lebih bahagia bila tidak bersama kita? Bagaimana jika yang terbaik baginya adalah untuk tidak bersama kita? Apakah berhak atas nama cinta kita memaksa yang dicintai agak bersama kita, agar mencintai kita juga? Jika mencintai ya silahkan mencintai saja, Kenapa menuntut?

Jika kita mencintai seseorang berarti juga melindunginya dari apa yang salah, jahat, dari keburukan apapun yang mungkin terjadi pada orang yang kita cintai. Bagaimana jika ternyata keburukan baginya justru datang dari kita yang mencintainya? Karena berbagai tuntutan yang kita minta, berbagai sikap dan perbuatan yang tidak pantas dilakukan, berbagai pembatasan yang kita berikan padanya. Cinta membuat kita siap berkorban untuk melindungi yang dicintai, bahkan termasuk melindunginya dari diri kita sendiri.

Terlalu banyak pertanyaan yang begitu panjang untuk dijawab pada 2 paragraf terakhir. Pasti Cinta dengan Ketidakpastian Bahagia.

Yang pasti Cinta, meskipun merupakan perasaan, tetap memerlukan pertimbangan logika dan kesadaran diri orang yang mencintai agar benar-benar menjadi Cinta dan bukannya egoisme belaka.

 

 

Advertisements

Mencintai Waktu Yang Tak Berpihak

CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP, seRba seRbi, Uncategorized

Setiap orang akan selalu merasa lelah ketika sedang berada dalam sebuah penantian. Penantian yang entah akan membawa kemana. Selangkah lebih dekat, atau justru menjauh dari hal-hal yang dianggap membahagiakan.

20161209_074820

Setiap kita adalah sebuah kepergian. Setiap kita adalah sebuah kehilangan. Kepergian dari kisah yang tercampakkan, entah diri ini yang mencampakkan atau orang lain yang membuangnya begitu saja.

Semua dari kita pasti membenci sebuah perpisahan, namun sering lupa ketika dengan senang hati membuka tangan untuk sebuah pertemuan. Pertemuan yang sebenarnya adalah pijakan pertama yang membawa kita lebih dekat dengan sebuah perpisahan.

Apa iya sebenarnya tugas kita adalah hanya menanti? Menanti kepulangan seseorang dari berpergian. Kepulangan yang belum tentu akan menetap, kepulangan yang seringnya hanya sekedar singgah.

Sucikanlah nama Tuhan Yang Paling Tinggi, hidup sudah dalam hitungan dan dalam kehendakNya. Kita dihidupkan sudah dalam genggaman tanganNya.. Dan sudah dalam rotasi yg berporos dalam kekuasaanNya.
Renung.
30.10.2017

 

 

01.10.2017

CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP, seRba seRbi

20170325_173617

Mencintai itu tak salah, karena cinta itu tak pernah salah. Yang salah adalah ketika kita memaksakan seseorang tuk tetap tinggal.

Aku berhak berusaha, tapi kamu juga berhak bahagia. Karena sejak dulu, bahagiamu selalu kuperjuangkan. Dan aku tak kan kuasa menuntut janji yang pernah terucap olehmu.

Terkadang takdir tak sependapat dengan cinta yang telah singgah. Takdir lebih berkuasa dari cinta yang telah tumbuh dan dirawat dengan sedemikian rupa. Walau mengalah bukan berarti menyerah akan keadaan, akan tetapi aku benar-benar menyerah dengan Takdir Yang Maha Kuasa.

Tak apa kini kembali timpang. Dengan beban di pundak yang biasanya sedikit ringan saat ada hadirmu. Namun aku percaya hidup ini berjalan dengan takdir-Nya, ikhtiar dan doa adalah bagian dari takdir itu sendiri, ia ada dan berjalan dengan sendirinya. Jika tak ada sebutir zarahpun dapat bergerak kecuali atas ijin-Nya. Dan tak ada seorangpun yang dapat memalingkan hati seseorang kecuali atas ijin-Nya. Maka sesungguhnya manusia tiada daya dan upaya kecuali atas ijin-Nya. 

Aku bukan yang terpilih, bahkan aku tak dapat memilih yang telah dipilihkan, karena sekuat apapun kemauan takkan bisa menembus dinding ketentuan.

Tumpah Pada Aksara

CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP, seRba seRbi

al_jazera

*Sebuah bait goresan pena*

Kupikir, semesta akan mengetuk perlahan kedua kelopak mataku, lalu menyadarkan dari mimpi yang terlampau tinggi. Nyatanya, ia mengejutkan dengan sebuah kenyataan, bahwa kebahagiaanku selama ini sedang menikmati bahagianya yang bisa jadi tanpa aku.

Kini, seringkali aku bertanya-tanya, adakah hujan di tempatnya berpijak? Atau di sekeliling terasa seperti musim semi selamanya?

Semisal ada yang menyebut ini cinta, barangkali hatiku langsung menyetujuinya. Namun akalku, bilang tidak. Sebab akupun tahu, jika cinta tak baik kurelakan begitu saja.

Ini sudah bukan tentang musim yang terus berganti. Ini tentang hati, yang bersikeras masih menanti—meski tak ada yang pasti.

Tanda tanya besar mengganggu dalam benak, sibuk mempertanyakan nyata atau tidak. Di satu sisi aku merelakan bahagiamu, namun di sisi lain bertanya-tanya mengapa bukan denganku. Di satu sisi aku enggan untuk lebih lama menunggu, di sisi lain barangkali masih ada harapan untuk dapat bersatu. Ternyata tak semudah itu menjadi rela, meski untuk melihatnya bahagia.

Semakin aku merasa ini tak adil, semakin pedih terasa di hati. Percuma terus begini. Toh aku di sini, ia dengannya, kita tak mungkin bersama. Baiknya kupadami saja segala bara yang masih menyebut namanya tanpa jeda, agar luka ini tak kubiarkan terus menganga. Baiknya memang tak lagi saling menyapa, sebab sepatah kata darinya mampu memanggil jutaan debar di dadaku.

Seperti tahu betul kelemahanku, semesta selalu menghadirkan-nya. Atau mungkin aku yang diam-diam mengantarkan kenangan tentangnya, hingga pada titik yang terdekat. Berbagai macam hal yang semesta suguhkan, mengapa dialah garis akhir dari segala ingatan?

Rasanya aneh, ketika ingin pergi dari hati yang tak pernah dihuni. Barangkali sama seperti melepas yang tak ada dalam genggaman. Rasanya aneh, ketika harus merelakan hati yang tak pernah dimiliki. Barangkali serupa meninggalkan tempat yang belum sempat kujejaki. Rasanya aneh, ketika harus terluka sebab sesuatu yang kuanggap cinta, padahal ia mungkin saja tak pernah menganggap itu ada. Barangkali serupa menangis tersedu, namun tanpa air mata.

Barangkali serupa aku yang kepadanya, dan titik takdirku yang hanya ingin henti di situ.

-Cha-

Dear Dr. Nadine Mohammed Attia

BeRiTa FoTo, CuRHat, Nadine Mohamed Ateya, PeRjaLanaN HiDuP, seRba seRbi

DSC03413

Insha Allah perjalanan ini masih akan panjang .. Sepanjang yang kita inginkan. Semoga kita bisa menikmati setiap detik yang kita jalani. Serta mensyukurinya sebagai anugerah Rabbana yang luar biasa.
Dan memang begitu adanya, hadirmu disampingku selama ini – dengan begituuuu banyak mengorbankan perasaaan- sungguh luar biasa. Dan tak tergantikan.

DSC03420

Nah sekarang tiup lilinnya Anakku Sayang .. dan tersenyumlah sepenuh hatimu. Kurindukan selalu senyum manismu, detik ini, dan untuk selamanya. Selamat ulang tahun nak, semoga tercapai hal-hal indah yang kau cita-citakan. Aamiin

Ya Rabbi .. Jadikanlah anakku seorang anak yang mampu membanggakan keluarga. Serta sholehah yang akan menjadikan kami para ahli surga. Allahumma Aamiin.