Noktah

Uncategorized

Dinding sebagai saksi bisu yang menyilahkan punggung tersandar. Begini rupa rasanya bertahan. Cekat menggema pada empat penjurunya. Gigil, terasa begitu membekukan.
Heningnya serupa dengan dendang lagu kematian. Seperti itu berlalunya hariku, hampir selalu.

kampung-daun

Tak ada paksa, aku menjadi pandai melaluinya dengan cita. Bukti menyerah pada takdir yang kuasa.

Begitu caraku memilah kisah, yang entah kepada siapakah aku harus merangkai sejarah.

Ini realitanya … dari sayatan dimensi kehidupan nyata, dari genangan bah air mata, dari derita yang tak pantas dijadikan prosa. Nurani bermain, menikmati yang sesungguhnya adalah kenikmatan yang hakiki. Cahaya dari atas cahaya nur baiti. Sebuah pilihan yang tak dapat dipilih dan tak bisa terulang.
Bukan, detik ini maut bukan jawaban. Bukan pula seonggok kayu yang Ia ombangkan. Aku adalah kapal yang sedang berlayar, untuk biduk sampai ke tujuan. Bukan kah benar begitu Tuhan?

Akan tiba semilir harum hutan pinus berbaur semerbak melati. Laksana aroma cinta bertabur lembut. Tiada lagi lara yang terhirup dengan nafas tersengal, dimana luka tak lagi terasa pilu. Aku akan meniti lengkung bianglala pada horizon bumantara. Meniti garis edar pesona sang Maha yang tak akan pernah pudar.

Karena aku tau, tak ada satu pun harapan yang kan luruh sia-sia.

 

Begini Caraku

CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP, Uncategorized

abi

Ketika lisan tak bisa berkata biarkan hati yang menyentuh. Akan terlalu banyak abjad merangkai kata. Yang berbulir menjadi kalimat demi kalimat. Lantas berhamburan begitu saja layaknya serpihan debu.

Wajar jika jiwa berpeluh rindu, walau lebih sering tetap kosong dalam genggaman. Biar hanya sukma yang menjelejah di sisi ruang batinmu. Rindu itu bukan hanya ilusi. Tak nyata, namun akan mengusik dan menggema ke penjuru ruang. Bergulir mengisi keretakan pada dinding-dindingnya.

Biarlah hitam, biarlah putih, biarkan pelangi tetap menghiasi cakrawala dan biarkan pula bintang tetap berkawan bulan.  Aku tak akan paksa semu seketika menjadi nyata.

Karena Ada akan tetap Ada.

Dan aku tak akan pernah menyesal telah dilahirkan mengenalmu.

 

 

 

Mencintai Orang Yang Salah

CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP

Widih lebay judulnya …

mencintai-karena-allah

Pernah mencintai seseorang di saat yang tidak tepat?  Atau mencintai orang yang tidak sepatutnya dicintai? Atau kesal dengan si Cupid yang seenaknya menancapkan busurnya? Dan atau pernah muak dengan peribahasa cinta tak selalu memiliki? Apanya toh yang mau dimiliki? Kan kita semua sudah tau, semua yang ada di dunia ini adalah mutlak milik Allah.

Woles aja keleus …

Selow sodara – sodara .. Yang namanya sedang diberi ruh oleh sang pencipta di dunia ini. Dan dibekali oleh seonggok daging yang dinamakan Hati. Yang dimana Hati itu outputnya adalah Perasaan. Jadi kenapa kita harus menampik datangnya sebuah Perasaan?

Bukankah tidak ada satu kejadian pun di dunia ini tanpa izin Allah? Termasuk itu tadi … urusan cinta – mencintai.

Jika di-analogikan menjadi rumus mungkin akan seperti ini:

Perasaan Cinta = ∑Hati + Takdir

Arti kata Cinta itu amat sangat multi tafsir. Tergantung dimaknai dari perspektive mana. Misal cinta pada orang yang salah. Kata ‘salah’ itu sendiri saja sudah multi tafsir. Siapa yang salah? Mengapa salah? Apa salah nya orang yang dicintai? Kok jadi orang yang salah? Lantas apa salahnya yang mencintai? Jika salah, memang ada Undang – Undangnya?

UU mengenai “Tindak Pidana Mencintai Orang Yang Salah”

Oh come on … Hellooowww …

Mungkin jika berbicara mengenai cinta pada orang yang salah adalah bicara mengenai Keikhlasan Cinta. Sebentuk cinta tanpa ekspektasi. Simple nya, cinta yang hanya memberi dan tak harap kembali. Walau sulit menjadi seperti sang surya menyinari dunia, saya rasa itu lah bentuk konkret keikhlasan cinta. *mungkin lebih mudah nyanyiinnya di Smule*

So jika sang surya saja mampu menyinari dunia dan hujan mampu menyejukkan dunia tanpa mengharap apa-apa dari penduduk dunia, berarti apa?

Apakah kita bisa menarik kesimpulan dari kalimat mencintai orang yang salah?

Jika cinta adalah rasa, dan rasa timbul dari hati. Sedangkan hati adalah dari dan untuk Allah. Maka kesimpulannya adalah segala bentuk cinta di dunia ini adalah perwujudan dari Allah. Dan ingat, Hati adalah dari Allah dan untuk Allah.

Cintailah segala sesuatu karena Allah. Karena rasa tidak pernah salah.

Qalb – Hati

CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP, Uncategorized

Sudah sangat lama tidak update blog. So, kali ini saya tergelitik untuk berbicara mengenai Hati. Bukan perasaan loh yah, karena saya sedang tidak ingin curhat. Mengingat menurut saya curhat itu adalah perilaku yang sia-sia. Saya lebih memilih untuk meluapkan apapun yang saya rasa, pada keheningan, sejuk cinta Rabb yang membelai. Kesedihan, kerisauan dan gundah akan sirna menjadi sebuah Kenyamanan.

Karena aku tak akan pernah dibuat kecewa oleh sang Maha.

cermin-hati2

Kembali kepada Hati. Tau apa yang selalu saya pinta pada sang Maha? Saya ingin mengembalikan hati saya kepada-Nya. Biarlah sang Maha yang menjaga dan merawat Hati saya itu.

Bayangkan nikmatnya..!! Saat diterpa cobaan dan musibah, kita akan tetap tersenyum … Tak ada lagi rasa duka, perih, cemas dan takut. Karena Hati sudah aman bersama-Nya.

 

 

 

 

Rabb .. 01.02.2017 ..

CuRHat, PeRjaLanaN HiDuP

284209_528209660526859_1810263734_n

Perjalanan demi perjalanan terlewati melalui jalan yang telah dilalui, itulah sebuah kisah pada lembaran kehidupan. Dan aku baru berada pada titik ini. 01.02.2017 awal pengembaraan menemukan keberadaan yang sesungguhnya

Aku akan terus mencarinya dengan menikmati kegelapan yang berpendar menghiasi setiap sudut penglihatan. Dengan selimut sunyi suara-suara yang tersembunyi dibalik pendengaran. Dentum irama jantung dan hembusan nafas menerka setiap tarikan yang membawa kepada suasanaNya.

Kenikmatan yang tajam akan riuh menetes di atas bentangan kata-kata yang tiada bertepi, menjelajahi ruang dan waktu. Panca indra tak lagi bersimpuh pada yang ada terlihat, Ia ada tetapi tak terlihat. Alam semesta yang menjadi saksi suatu keberadaan yang ADA dan TIADA. Saksi wujudnya keberadaan Sang Maha.

Tak ada lagi Bagaimana? Mengapa? Apa? Dimana?

Menjadi rasa yang merdeka